25 Nopember hari ini, hari yang kita tahu sebagi hari Guru. Sebagian sekolah merayakan hari ini dengan berupacara, setelah itu ada juga sesi pemberian hadiah untuk guru – guru yang terpilih. Selalu seperti itu. Tapi mungkin kita mendengar di sebagian daerah para guru berdemon seperti mahasiswa yang identik dengan aksi ini, untuk meminta haknya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Lohh.., pahlawan tanpa tanda jasa kok minta hak sihhh??? Bukan nya harus ikhlas ya??
Iya … memang seperti itu tapi kan guru juga punya tanggungan dan harus melanjutkan hidup, sebelum jadi guru kan mereka juga mengeluarkan biaya agar punya gelar dan bisa jadi guru. Emm.., wajarlah para guru minta haknya wong hanya itu sumber penghasilannya, jadi tidak mengajar untuk berdemon pun ya enggak kenapa2, tapi yang rugi muridnya.., eits.., enggak juga murid juga senang karena bisa liburrr. Ya.. memang yang enak2 itu banyak yang suka, saya pun mengiyakan hal itu.Aku pernah ingat seorang guru yang terbilang senior di sekolah kami, yang dia juga termasuk pendiri dan pejuang sekolah itu berdiri nama beliau Najamuddin Noor. BBA. Beliau terkenal disiplin, galak, dan di segani siswa dan guru – guru lainnya. Namun itu ketika beliau masih muda dan gagah, pada saat saya masuk sekolah itu beliau sudah tua dan agak lemah fisiknya karena sakit tua yang dialaminya. Sebelumnya julukan beliau Babe, semua orang yang kenal dengannya memanggilnya babe, namun setelah angkatan saya masuk kami merubah panggilannya dengan menambahkan pak sebelum babe jadinya Pak Babe. Maksud kami baik kok, hanya ingin menandakan kami murid-murid yang sopan dan biasanya kan seorang guru dipanggil Pak/Ibu sebelum namanya. Sudahlah panjang cerita kalau menceritkan sebuah kenangan biar saja cerita tentang beliau kujadikan buku special nantinya.
Pak babe yang saat ini telah menjadi Alm mengatakan “ coba lihat guru – guru yang berdemon itu …! Apa seperti itu seharusnya mereka ?? mereka yang telah mendidik kita supaya menjaga harkat dan dan martabat diri sendiri, kemudian kenapa mereka yang beraksi di situ ?? apa karena mereka teraniaya atau mereka merasa jadi orang yang kekurangan padahal pkerjaan mereka sangat mulia. Kemana harkat dan martabat guru kita itu??. saya tidak paham karena jelas secara logika mereka wajar seperti itu meminta hak. Ada satu siswa yang terdenagar suaranya dari barisan paling belakang “ mereka minta haknya pak, masa guru gajinya kecil “. Alm pun lagsung menjawab memang betul, tapi kalau setiap guru sadar dan ikhlas akan pekerjaannya yang mulia, pasti mereka tidak akan melakukan hal itu. orang yang mulia seharusnya lebih bijakasana terhadap hal apapun. Kita harus sadar gaji seorang guru tidak bisa sebanding dengan gaji – gaji para menteri, lalu sudah tahu begitu kenapa mau jadi guru??? Saat itu saya berani bertanya “kalau semua orang sadar akan hal itu dan tidak ada yang mau jadi guru lalu siapa yang menjadi guru kami pak ??”. “Kalian Semua”, jawab beliau singkat. Lalu beliau meneruskan jadilah seorang pendidik yang ikhlas anakku, jangan buat pekerjaan yang mulia ini sebagai lading mencari uang, buatlah hal lain sebagi ladang uangmu.
Memang saat itu pun saya bingung yang di katakannya belum nyambung, kemudian lambat laun waktu demi waktu, hari demi hari, minggu demi minggu, beliau menjelaskan jiwa Kewirausahaan yang harus dimiliki setiap orang. Inilah yang seharusnya kita buat teman sebagai calon guru, jangan jadikan pekerjaan yang mulia ini sebagai ladang uang, tapi ayo kita tanamkan jiwa kewirausahaan dalam diri seoarang calon guru, dengan itu kita pasti tidak perlu minta-minta di gaji besar,dengan sesuatu yang besar yang kita lakukan, karena seharusnya pemerintah yang minta –minta agar guru mencurahkan seluruh ilmunya kepada anak bangsa.
![]() |
| Najamuddin Noor, BBA |
Pak Babe seorang pendidik yang tak ada duanya, beliau tidak hanya mengajar tapi mendidik kami, ilmu yang di dapat darinya pun banyak yang menempel di otak, mungkin karena keikhlasannya. Saat sakit pun beliau rela datang ke sekolah dengan menaiki becak, sudah tua pun jiwanya yang disiplin masih terpancar, dia tidak akan masuk kelas jika belum tepat jam di tangannya, dan jika telah habis dia pun tahu dan langsung mengakhiri kegiatan belajar mengajar. Tidak akan habis kenangan tentangmu Guruku…. Kami semua merindukan semua tentangmu…..






